Satu lagi inspirasi email dari salah satu milis mendorong saya untuk mengulasnya dalam blog pribadi saya, yang tentunya dari sudut pandang saya pribadi juga.
Judul emailnya adalah “Berhentilah Berteriak!”
Ada apa dengan teriakan rupanya, sehingga harus dihentikan?
Email itu diawali kisah tentang kebiasaan penduduk kepulauan Solomon jika ingin merobohkan pohon yang besar dan kuat, mereka melakukannya dengan cara meneriaki pohon tersebut selama 40 hari sampai kemudian pohon itu menjadi layu dan mati. Ini mengajarkan kita bahwa teriakan yang kita hantarkan pada orang-orang terkasih kita akan “mematikan roh” orang tersebut. Selain itu dengan berteriak artinya kita merentang jarak dengan orang yang kita kasihi, karena kita hanya akan berteriak pada seseorang hanya jika jaraknya terlalu jauh untuk berbisik. Kita juga harus siap dengan teriakan balasan dari orang yang kita kasihi sebagai jawabannya.
Saya berasal dari keluarga yang tidak terlalu besar, hanya 3 bersaudara (termasuk saya, si bungsu dan satu-satunya putri keluarga). Mama dan Papa saya merupakan dua pribadi yang berbeda namun melengkapi (walau kadang justru karena berbeda makanya bisa bertentangan juga). Papa yang pendiam namun keras seperti pekerjaan yang digelutinya dan warisan keluarganya yaitu di bidang perbengkelan bersanding dengan mama yang berlatar belakang pendidik namun lahir dari keluarga pedagang. Jelas keduanya menelurkan cara mendidik yang berbeda termasuk cara menyampaikan pesan pada anak-anaknya.
Mama bukan wanita lemah lembut dan keibuan dengan suara mendayu saat menasehati, namun suara tegasnya sebenarnya cukup lembut di telinga anak-anaknya. Papa yang jarang memarahi kami namun bisa menjadi keras, tetap ”lemah hati” menghadapi kenakalan kami bertiga. Ya, dengan kata lain, kami bukan lahir dan bertumbuh dengan teriakan. Mungkin itu sebabnya, saya termasuk anak yang tidak bisa “dikerasi”. Jika saya diminta secara keras, saya tertantang untuk menolaknya (walaupun merasa hal itu benar atau memang seperti keinginan saya), tapi saya bisa berkorban sepenuh hati hanya karena suara lemah lembut dan terasa “baik-baik” di telinga.
Kembali ke soal teriakan. Saya percaya bahwa teriakan bisa mematikan roh. Ya memang tergantung jenis teriakannya. Berteriak marah, kasar dan menyumpah adalah cara paling efisien membuat orang (terutama anak-anak) menjadi takut dan segan, tapi di sisi lain juga efektif untuk membunuh kelembutan hati dan keakraban. Berbicara dengan lembut namun tegas menurut saya akan menghantarkan anak-anak kita menjadi lebih manusiawi dan terkontrol. Tidak dipungkiri, menahan teriakan saat emosi meledak bukan perkara gampang yang tidak perlu dilatih. Tapi keuntungan yang didapat selanjutnya tentu dapat menjadi pertimbangan kita untuk berbicara lebih manis kepada mereka. Toh saya memulai untuk melatih semua ini dengan bekal rasa tidak sabar yang luar biasa, namun saya lebih takut menyaksikan jagoan kecil saya menjadi monster kuat dan perkasa tapi tidak berperikemanusiaan dan mengerti arti cinta kasih.
The words for me:
Tumbuh dalam teriakan dan hujatan mungkin terliat mengasah anak menjadi lebih kuat dan tahan banting, namun sisi penyayang dan kelembutan hati yang terkikis lalu menguap sama sekali tidak cukup berharga menjadi bayarannya.

