Feeds:
Posts
Comments

Berhentilah berteriak !

Satu lagi inspirasi email dari salah satu milis mendorong saya untuk mengulasnya dalam blog pribadi saya, yang tentunya dari sudut pandang saya pribadi juga.

Judul emailnya adalah “Berhentilah Berteriak!”

Ada apa dengan teriakan rupanya, sehingga harus dihentikan?

Email itu diawali kisah tentang kebiasaan penduduk kepulauan Solomon jika ingin merobohkan pohon yang besar dan kuat, mereka melakukannya dengan cara meneriaki pohon tersebut selama 40 hari sampai kemudian pohon itu menjadi layu dan mati. Ini mengajarkan kita bahwa teriakan yang kita hantarkan pada orang-orang terkasih kita akan “mematikan roh” orang tersebut. Selain itu dengan berteriak artinya kita merentang jarak dengan orang yang kita kasihi, karena kita hanya akan berteriak pada seseorang hanya jika jaraknya terlalu jauh untuk berbisik. Kita juga harus siap dengan teriakan balasan dari orang yang kita kasihi sebagai jawabannya.

Saya berasal dari keluarga yang tidak terlalu besar, hanya 3 bersaudara (termasuk saya, si bungsu dan satu-satunya putri keluarga). Mama dan Papa saya merupakan dua pribadi yang berbeda namun melengkapi (walau kadang justru karena berbeda makanya bisa bertentangan juga). Papa yang pendiam namun keras seperti pekerjaan yang digelutinya dan warisan keluarganya yaitu di bidang perbengkelan bersanding dengan mama yang berlatar belakang pendidik namun lahir dari keluarga pedagang. Jelas keduanya menelurkan cara mendidik yang berbeda termasuk cara menyampaikan pesan pada anak-anaknya.

Mama bukan wanita lemah lembut dan keibuan dengan suara mendayu saat menasehati, namun suara tegasnya sebenarnya cukup lembut di telinga anak-anaknya. Papa yang jarang memarahi kami namun bisa menjadi keras, tetap ”lemah hati” menghadapi kenakalan kami bertiga. Ya, dengan kata lain, kami bukan lahir dan bertumbuh dengan teriakan. Mungkin itu sebabnya, saya termasuk anak yang tidak bisa “dikerasi”. Jika saya diminta secara keras, saya tertantang untuk menolaknya (walaupun merasa hal itu benar atau memang seperti keinginan saya), tapi saya bisa berkorban sepenuh hati hanya karena suara lemah lembut dan terasa “baik-baik” di telinga. 

Kembali ke soal teriakan. Saya percaya bahwa teriakan bisa mematikan roh. Ya memang tergantung jenis teriakannya. Berteriak marah, kasar dan menyumpah adalah cara paling efisien membuat orang (terutama anak-anak) menjadi takut dan segan, tapi di sisi lain juga efektif untuk membunuh kelembutan hati dan keakraban. Berbicara dengan lembut namun tegas menurut saya akan menghantarkan anak-anak kita menjadi lebih manusiawi dan terkontrol. Tidak dipungkiri, menahan teriakan saat emosi meledak bukan perkara gampang yang tidak perlu dilatih. Tapi keuntungan yang didapat selanjutnya tentu dapat menjadi pertimbangan kita untuk berbicara lebih manis kepada mereka. Toh saya memulai untuk melatih semua ini dengan bekal rasa tidak sabar yang luar biasa, namun saya lebih takut menyaksikan jagoan kecil saya menjadi monster kuat dan perkasa tapi tidak berperikemanusiaan dan mengerti arti cinta kasih.

The words for me:

Tumbuh dalam teriakan dan hujatan mungkin terliat mengasah anak menjadi lebih kuat dan tahan banting, namun sisi penyayang dan kelembutan hati yang terkikis lalu menguap sama sekali tidak cukup berharga menjadi bayarannya.

Tidak Menjadikannya Besar..

Saya merasa termasuk orang yang complicated. Mengapa begitu? Saya suka memikirkan sesuatu dengan cara dan sudut pandang yang rumit. Bisa karena terlalu jauh memikirkannya sampai menembus dimensi kekinian, atau juga karena terlalu banyak peran yang masuk dalam pemikiran saya. Kalau saya menjadi si A, saya akan berpikir seperti ini, tapi sebagai si B bukan hal yang salah kalau saya mempunyai cara pandang seperti ini. Pokoknya rumit, belum lagi kalau saya tambahkan peran atau background pendukung dari fenomena, buku, pengalaman, cerita yang pernah saya tahu. Hasilnya karena saya terlalu banyak memasukkan kepentingan dan pemikiran orang-orang lain, jadilah keputusan saya menjadi super complicated atau malah kadang lama sekali baru menjadi keputusan, saking rumitnya :)

Perasaan saya sebagai complicated person, ditegaskan oleh pendapat dan nasehat2 yang keluar dari mulut penjaga hati saya. Untungnya, dia cukup wise  mengutarakannya, sehingga saya lebih merasa itu sebagai “pujian” daripada sebagai serangan udara :) Walaupun begitu, jelas masukannya mendorong saya untuk lebih menguraikan benang kusut di otak saya dengan cara mengambil simpul termudah dan terluar pada benang itu.

Mengenai ini, saya (pernah) membeli dan membaca sebuah buku terjemahan berjudul “Jangan mempersoalkan hal-hal kecil bagi wanita!”. Walau belum sanggup diterapkan semua dalam hidup saya, buku itu cukup memberi pencerahan untuk memandang hidup berserta pernak-perniknya dengan lebih sederhana. Mulai lebih memikirkan masa kini dan tidak disibukkan oleh persoalan yang belum ada atau bahkan tidak pernah ada.

Implikasi dari pembelajaran itu juga semakin mengasah saya untuk tidak terlalu antusias dan histeris terhadap sesuatu. Ketika orang yang sudah sungguh2 berjanji pada saya secara mendadak membatalkan janjinya atau malah pergi tanpa kabar dan kembali seperti tidak pernah berjanji, tidak membuat saya menjadi antipati. Ketika apa yang saya rencanakan atau inginkan tidak tercapai walaupun sebelumnya sudah hampir pasti 99%, tidak membuat saya patah semangat. Ketika teman dan saudara yang saya harapkan untuk membantu atau bersikap baik kepada saya tidak memasukkan saya dalam daftar ”orang-orang istimewa yang perlu dibantu dan disayang”, saya berusaha tidak kecewa dan membalasnya. Ketika rumah tidak sebersih dan serapi yang saya inginkan karena jagoan kecil saya sibuk dengan masa penjelajahannya atau penjaga hati saya alpa untuk menaruh segalanya kembali pada tempat semula, tidak membuat hari-hari saya menjadi rusak dan merasa perlu mengeluarkan omelan panjang pendek. Ketika ada orang yang menuduh saya melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah saya dengar atau mengintimidasi saya sebagai bentuk superior mereka pada bumi ini, saya akan menghadapinya dengan tenang dan berpikir orang tersebut sedang bad mood dan sedang butuh pengakuan. Intinya, saya belajar untuk tidak menjadikan hal-hal kecil menjadi besar dan tidak memperbesar hal-hal yang seharusnya bisa menjadi lebih kecil.

Tidak mudah memang, karena saya harus belajar memancarkan energi positif dan membuang jauh-jauh energi negatif dalam diri saya (tips dari si penjaga hati). Buat saya yang biasa “menang” menjadi pengalah sering terasa sebagai loser, tapi itu kan cara mutlak yang harus ditempuh untuk menjadi orang yang lebih baik. Cara lainnya adalah dengan mengurangi keluhan alias complain yang keluar dari mulut dan pikiran kita. Saya percaya keluhan bukan hanya menghisap energi positif dalam diri saya, tapi juga menghisap energi positif dari orang2 yang baik sengaja maupun tidak sengaja mendengar keluhan kita. Keluhan tidak mempermudah hidup kita, hanya membuat kita seperti merasa berhak mendapat kompensasi atas kesulitan yang kita miliki, tapi tidak menambah se-inci pun kenikmatan hidup kita. Orang yang berbakat mengeluh, selalu mempunyai 1001 alasan lagi untuk mengeluh di saat mendapat 1001 pemenuhan atas keluhan sebelumnya. Merasa menjadi orang yang paling menderita sehingga layak dikasihani oleh orang sedunia akan menutup mata kita untuk melihat hal-hal kecil yang dapat kita syukuri.

The words for me:

Tidak menjadikannya besar bukan berarti menutup mata dan bersikap tidak peduli, namun bersikap dan berbicara secara bijak mengenai suatu kejadian sesuai dengan porsi masalah dan waktu penyelesaian terbaik.

Saya bukan pencinta film. Saya lebih bisa menikmati imajinasi melalui buku. Itu pun tidak semua buku bisa menggugah saya. Kalau sekarang, saya ingin sedikit mengulas 2 buah film, itu karena film tersebut merebut simpati saya dan mendorong saya untuk berbagi dengan pembaca blog ini. Kedua film tersebut saya pinjam dari Clayton Public Library. Saya mohon maaf kalau hasil telaah saya begitu dangkal dan tidak mampu menonjolkan bobot film tersebut sesungguhnya.

Film pertama: Turtles Can Fly by Bahman Ghobadi

Film ini ber-setting di sebuah desa di perbatasan Iran dan Turki. Para penduduk desa berusaha memasang antena untuk menangkap berita mengenai penyerangan US ke Irak. Seorang bocah 13 tahun yang dipanggil “Satellite” bersama pasukan kecilnya bertugas untuk menemukan saluran dari antenna tersebut. Beberapa adegan yang lucu dan menyentuh ketika mereka bekerja dengan menemukan ranjau untuk “dijual” pada tentara America. Korban ledakan pasti tidak terhindarkan untuk pekerjaan yang penuh risiko ini. Suatu hari desa tersebut kedatangan 3 orang bocah (1 laki-laki sekitar 15 tahun dan tanpa lengan, adik perempuannya sekitar 13 tahun dengan 1 anak bayi berusaha sekitar 1 tahun lebih). Anak laki-laki tersebut mempunyai indera ke-6 yang dapat melihat masa depan termasuk memprediksi kapan Amerika menyerang Irak. Dia juga bisa mengetahui saat adik perempuannya mencoba membunuh bayi laki-laki  tersebut beberapa kali, sampai akhirnya berhasil dengan menenggelamkannya di sebuah danau- dan dia terlambat untuk mencegahnya. 

Yang paling menggugah adalah kepolosan para anak2 tersebut serta aktingnya yang sangat natural. Mereka jelas bukan para bintang cilik yang diambil dari casting Idol Cilik. Cacat yang mereka alami akibat perang benar-benar dimiliki. Cara mereka menikmati masa kanak-kanak mereka dengan bermain dan bekerja sungguh terasa menyentuh hati. Saya seperti terlempar di belahan dunia lain yang tidak pernah saya bayangkan seandainya saya tumbuh di sana. Walau tidak dipastikan dalam film tersebut, tapi jelas terlihat kalau motif pembunuhan yang dilakukan gadis cilik tersebut karena dia merasa malu akan hadirnya anak bayi yang merupakan hasil pemerkosaan yang menimpa dirinya. Dia ingin “melepaskan” diri dari anak bayi tersebut untuk menyongsong hidup baru pada saat melintasi perbatasan. Buat saya, film ini memberikan saya pemahaman lain tentang hidup. Manusia dianugerahi sejuta cara untuk bertahan hidup dan di antara ribuan caranya manusia diberi kesempatan untuk berbagi dengan manusia lain.

Film kedua: The White Masai by Hermine Huntgeburth

Film ini diangkat dari kisah nyata yang tertuang melalui novel dengan judul yang sama. Dimulai dengan cinta pandangan pertama dari seorang wanita swiss kepada seorang pejuang tradisional Masai (salah satu suku di Kenya, Africa). Cintanya membuat dia meninggalkan pria yang menjadi kekasihnya selama 2 tahun dan menuntun dia untuk hidup sederhana di sebuah desa tempat tinggal pria tersebut. Bersama berjalannya waktu, berbagai perbedaan dan konsekuensi harus dihadapi mereka berdua, sampai akhirnya si wanita memutuskan untuk kembali ke negaranya dengan membawa anak perempuan, buah perkawinannya dengan sang pejuang.

Mengapa cerita ini menarik? Dari dulu saya tidak percaya cinta pandangan pertama sama seperti saya tidak percaya cinta jarak jauh. Walaupun untuk jenis cinta kedua ini, berdasarkan pengalaman pribadi saya harus mengakuinya bahwa itu bukan suatu yang mustahil. Tapi saya percaya bahwa cinta bisa menyingkirkan segala macam perbedaan. Nyatanya, sama sekali tidak mudah, meski tetap dapat dibilang tidak mustahil. Perbedaan kultur dan cara pandang sangat berpotensi untuk menciptakan perpisahan. Dibutuhkan banyak kebesaran hati, kebijakan dan lebih sedikit “aku” untuk bisa bertahan. Intinya bukan cuma Cinta. Ketika semuanya menjadi berubah tidak semanis awalnya, tidak ada yang bisa disalahkan termasuk cinta itu sendiri.

Kalau anda diminta untuk memilih salah satu dari judul di atas, mana yang anda pilih, nasib baik atau kerja keras?

Apakah anda lahir dari keluarga yang selalu berkecukupan (walau mungkin bukan orang kaya (sekali) atau konglomerat)? Apakah anda termasuk orang yang tidak pernah mengalami kesulitan hidup yang benar-benar sulit, seperti bagaimana bisa makan?Dengan apa bayar uang sekolah?Siapa lagi yang bisa dimintai tolong(hutang) untuk menambal kebutuhan hari ini?Lebih berpikir masih bisa melanjutkan sekolah atau tidak ketimbang memikirkan untuk ganti sepatu baru atau beli jeans LEA seri terbaru? Merasa makan di KFC atau McDonald adalah hal yang mewah atau yang cuma untuk memutuskan hari ini masih bisa makan 3x atau hanya 2x saja perlu pemikiran dan strategi (menahan lapar dan pengetatan perut) yang canggih?

Nah, kalau 1 atau lebih dari hal-hal di atas tidak pernah terjadi pada diri anda, anda patut bersyukur! karena di luar rumah nyaman anda, banyak jutaan orang tidak hidup sejahtera seperti anda.

Seingat saya, masa kecil saya tidak susah-susah amat. Kalau cuma pernah merasakan KFC atau donat bermerk yang kecil tapi mahalnya minta ampun, meski tidak sering, saya masih bisa bersombong diri (walau ternyata di kemudian hari, saya baru tahu, itu hanya merupakan sedikit bagian kecil dari kemewahan yang harus dilakukan supaya bisa dibilang orang (berke)cukup(an)). Tetapi ketika saya mulai menginjak bangku terakhir di SD, tiba-tiba lama (sering kali tidak terjadi) buat orang tua saya memenuhi permintaan saya yang (menurut saya) sederhana seperti rok SD warna merah baru (karena yang lama sudah kependekan sehingga menyusahkan saya untuk duduk rapi, selain karena saya memang termasuk tomboy) atau sekedar sepatu warna hitam baru (yang lama sudah berlubang, sehingga saat-saat mengheningkan cipta waktu upacara sangat menyiksa saya karena (dengan PD-nya) saya merasa semua mata teman-teman saya tidak sedang berdoa untuk para pahlawan tapi sedang memandangi (atau menertawakan) sepatu bolong saya)

Ini berlanjut atau tepatnya memburuk sampai saat saya harus melanjutkan sekolah ke SMP, SMA bahkan kuliah. Semua ditempuh dengan terengah-engah. Saat itu, saya sama sekali tidak pernah berpikir untuk hanya sekedar sekolah saja- tidak perlu ke sekolah bagus dan tidak perlu bermimpi untuk menjadi dokter- atau bahkan berhenti sekolah. Tekad saya jelas: SEKOLAH ADALAH JALAN KELUAR SAYA DARI KEBODOHAN DAN KEMISKINAN!

Tekad dan ambisi saya untuk menjadi orang lebih baik melalui sekolah mendorong saya untuk bekerja keras. Saya lakukan semua yang bisa saya lakukan pada saat itu, segala pekerjaan halal walau tidak mahal, saya lakukan. Sebagian hanya untuk mengisi perut, sebagian lain untuk menabung biaya kuliah. Pengalaman-pengalaman tersebut membentuk pemikiran saya bahwa SEMUA TERCAPAI KARENA KERJA KERAS. Salah satu teman saya berkata bahwa Tuhan memberi banyak lika-liku dalam hidup saya, karena Tuhan ingin menempa saya menjadi lebih kuat dan karena Tuhan juga selalu memberi cobaan yang sesuai dengan kekuatan saya. Sebenarnya kalau boleh jujur, saya lebih ingin Tuhan menempa saya melalui jalan yang lebih nyaman dan tidak susah-susah amat.

Tidak saya pungkiri, rasa iri yang kadang hinggap di sanubari saya saat saya melihat teman membeli 5 set formulir masuk perguruan tinggi terbaik dengan ringan padahal saya berpeluh kesah untuk membeli 1 set aja karena harganya sudah melebihi separuh uang bulanan saya (itu pun dari bea siswa). Atau ketika saya selalu sport jantung saat lewat badan administrasi atau papan pengumuman di kampus karena takut menemukan “surat cinta” dari kampus yang menagih 9x cicilan uang gedung yang belum dibayar, padahal teman saya sedang bercerita mobil barunya, hadiah si papi yang bahagia karena ternyata uang gedung yang diminta universitas jauh di bawah budget yang disediakan.

Ya, dapat dikatakan saya iri dengan nasib baik mereka untuk mendapatkan semua tanpa susah payah dan literan keringat serta air mata.

Saya sedang membaca “LASKAR PELANGI” (sepertinya agak terlambat ya) dan belum tuntas. Saya bisa merasakan perasaan anak-anak tersebut, kenginan untuk bersekolah, perjuangan yang harus ditempuh supaya bisa bersekolah. Semuanya tidak asing bagi saya, walau di banyak sisi saya masih lebih beruntung (Thanks God for that). Saya yakin sampai waktu ini, kenyataan itu masih terus terjadi di antara jutaan anak di dunia ini. Saya ingin Tuhan memberi saya kesempatan untuk berbagi dengan mereka.

Kembali ke pertanyaan di awal, lalu apa yang saya pilih: Nasib Baik atau Kerja Keras? Dengan yakin, saya memilih kerja keras, karena nasib baik bisa berubah menjadi tidak baik, tapi kerja keras akan selalu ada dalam darah saya, membuat saya bisa survive di segala cuaca :) Saya ingin menanamkan etos ini kepada (setiap) jagoan kecil saya. Saya ingin mereka belajar bahwa tidak semua hal dapat diraih dengan menunggu, tapi melalui kerja keras dan bagaimana kita menghargai diri dengan cara lebih bermartabat-bukan dari seberapa mahal harga pakaian dan sepatu yang kita pakai atau sebanyak apa kekayaan yang kita miliki sehingga membuat orang memuja atau bahkan merasa iri.

Saya mengerti jika ada orang yang diberi nasib baik dalam kehidupan mereka, tetapi saya lebih mengagumi dan menghargai orang-orang yang meraih impian melalui kerja keras.

The Word for me:

Bernasib baik bisa jadi merupakan impian besar setiap orang, tetapi membuktikan bahwa semua tercapai karena kerja keras adalah kebanggaan terbesar dalam hidup.

Tidak terasa sudah lama saya tidak menuliskan buah pikir saya di blog ini. Kambing hitamnya adalah waktu dan mood (selalu dan selalu menjadi yang paling hitam :) )

Dulu saya berpikir dengan berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan menjadi “bos” untuk diri sendiri, pasti saya memiliki waktu lebih banyak daripada menjadi pegawai yang semuanya sudah terjadwal dan dijadwalkan. Ternyata saya salah, ya paling tidak sampai saat ini. Waktu saya memang lebih banyak dan saya lebih leluasa mengatur kegiatan sendiri, tapi saya juga mempunyai keinginan lain yang tidak saya pikirkan saat bekerja. Bermain dengan anak!

Mood.. sering kali banyak ide sudah bersemayam dan berjejer di otak saya, menunggu giliran untuk di upload dalam bentuk tulisan di blog ini. Tapi setiap kali mulai meletakkan jari di keyboard lap top, saya merasa seperti waktunya belum tepat atau kata-kata yang sudah antri di pintu otak tiba-tiba berebutan menjauh dan mengundurkan diri sebagai peserta pertama yang akan dipublikasikan.

Ironis.. mengingat tujuan utama saya menulis blog ini. Tetapi saya tidak mau memaksakan diri untuk menulis ketika saya tidak ingin dan tidak bisa menulis, sehingga hasil tulisannya seperti polesan bedak dan make up yang hanya berfungsi untuk menutup yang dimiliki dan menonjolkan yang tidak (kurang) dimiliki oleh wajah si empunya. Cukup dikagumi namun tidak menyentuh dasar hati yang paling murni. Tidak berjiwa, bahasa puisi-nya.

Semoga hari ini, waktu dan mood cukup menuntun saya, paling tidak, menuangkan sedikit sisi diri saya lagi.

Yes, This is me..

Perubahan..

Beberapa waktu lalu, saya menerima email dari salah satu milis yang saya ikuti, tentang perubahan, yang merupakan buah karya pemandu sekaligus produser program TV “Kick Andy” alias Andy F.Noya. Isinya menarik (selain gaya penulisannya yang sederhana dan enak dibaca). Sayang, saya masih belum “menemukannya” di antara tumpukan email-email saya yang belum sempat dirapikan.

Secara garis besar, email (tepatnya cerita) dari Bang Andy ini mengungkapkan kegalauan hatinya mengenai rasa gado-gado di depan (mantan) kampusnya. Walaupun penjual dan tempatnya tidak berubah, tapi mengapa sekarang gado-gado itu terasa lain di lidahnya? Siapa yang salah, gado-gadonya atau beliau sendiri?

Ini mengingatkan saya saat saya mudik ke rumah orang tua setelah beberapa tahun belajar di kota gudeg. Setibanya di rumah, saya merasa rumah yang dulu (terasa) luas dan nyaman, jadi (terasa) sempit dan menyesakkan. Kulkas di ruang makan yang dulu harus saya panjat dengan kursi untuk mengambil barang di atasnya, sekarang hanya sedikit lebih tinggi dari saya dan bisa saya tengok semua isi di atasnya hanya dengan berjinjit. Lalu masalahnya dimana? Saya yakin rumah dan kulkas tidak mungkin menyusut atau mengkerut, pasti ini karena sayalah yang berubah, bertambah besar dan tinggi.

Apakah anda pernah merasakan hal seperti itu?

Kembali ke soal gado-gadonya Bang Andy. Beliau merasa rasa tidak enak itu timbul karena sekarang beliau sudah mencoba banyak makanan yang lebih enak dan mahal, makanan luar negeri yang dulu tidak mungkin dibeli atau bahkan untuk dibayangkan saja. Gado-gado yang murah menjadi pilihannya saat beliau masih menjadi mahasiswa miskin. Kalau begitu ini berarti beliaulah yang berubah.

Ini tentu akan membuat risau seorang yang karena pengalaman masa kecilnya, bersumpah untuk tidak berubah kalau suatu hari menjadi sukses dan lebih kaya.

Mengapa Perubahan bisa terjadi?

 Saya sendiri merasa perubahan akan selalu eksis di dunia ini karena dinamika lah yang tetap menjaga bumi ini berputar dan hidup. Perubahan juga mungkin saja terjadi pada diri kita akibat pengalaman hidup, waktu dan jarak yang terentang, perbaikan status hidup, atau hanya karena kita ingin berubah saja dan menjadi manusia baru, untuk segala macam tujuan.

Apakah perubahan itu baik atau buruk?

Buat saya, perubahan itu perlu dan harus ada. Menjadi lebih baik atau lebih buruk sekali lagi adalah pilihan kita. Kalaupun kita harus berubah karena dunia menginginkan kita berubah, paling tidak tetap ada alasan mengapa harus berubah yaitu supaya diterima oleh dunia. Yang lebih penting adalah esensi perubahan itu sendiri. Ada perubahan yang terjadi begitu lambat dan tidak disadari, tiba-tiba kita hanya merasa “kok, dia berubah ya sekarang, mulai kapan?” Seperti suami istri yang sudah lama hidup bersama, terhanyut oleh kerutinan dan keterbiasaan, tanpa kejutan dan stabil (atau statis?). Sampai pada titik, masing-masing merasa yang lain telah berubah dan tidak bisa menghentikan perubahan itu, dan jawabannya adalah harus berpisah, untuk mencari orang lain yang lebih memahami diri yang sudah berubah ini. Atau tentang sepasang sahabat yang tidak terpisahkan dan merasa masing-masing adalah yang paling tahu, mengerti dan bisa menjadi sandaran hidup, tidak kuasa menolak datangnya perubahan karena waktu, jarak dan cita-cita. Bertemu kembali di lain waktu, seperti sosok asing yang tidak pernah saling mengenal dan menolak untuk membicarakan masa lalu hanya karena tidak ingin berbagi waktu yang pernah hilang antara mereka. Atau tentang seorang anak yang masa kecilnya diliputi kemiskinan, yang membuat dia harus bekerja keras dan akhirnya berhasil, sekarang membeli semua yang bisa dibeli dan menaruh dirinya di status sosial yang lebih tinggi, tentu termasuk dengan atribut-atributnya yang serba bergengsi. Atau tentang seorang pejahat kawakan atau pelacur jalanan yang berganti haluan menjadi pemimpin agama atau wanita baik-baik demi cinta dan hidup baru.

 Kalau begitu, perubahan itu baik atau buruk? Salah atau benarkah perubahan itu?

Bagaimana menghentikan perubahan?

Perubahan itu abadi. Menjadi tidak berubah bukan pilihan bagus untuk tetap bertahan hidup di dunia ini. Hanya kita sendiri yang bisa mengendalikan laju perubahan pada diri kita. Saya sendiri merasakan benar perubahan baik fisik, mental dan cara berpikir saya baik sebagai siswa, pekerja, istri, ibu, anak, menantu, teman, bawahan, atasan, maupun sebagai diri saya sendiri. Saya hanya menjaga agar perubahan itu tidak mengubah apa yang sudah baik pada diri saya dan dapat mengeliminir sebanyak mungkin ketidakbaikan yang saya miliki. Menjadi diri saya sendiri juga masih menjadi pilihan saya, hanya dengan membumbuinya dengan lebih banyak kebijakan, ketulusan dan kedewasaan.

The words for me:

Perubahan itu bisa terjadi pada siapa saja, kapan dan dimana saja. Perubahan hanya perlu dimulai oleh diri sendiri, di sini dan saat ini juga. Hanya perlu sedikit alasan untuk berubah, namun perlu banyak kebijakan untuk menyikapi suatu perubahan.

Jalan Hidup..

Siapa yang sangka kalau teman SMA yang urakan, badung dan masuk kategori trouble maker sekarang sukses duduk manis menjadi karyawan suatu bank swasta? Siapa yang tidak terkejut ketika mendengar berita teman kuliah yang sederhana, malu-malu dan termasuk sweet girl nyaris kehilangan gelarnya karena telah melakukan pelanggaran di kampus demi cinta? Siapa yang tidak miris mendengar seorang gadis yang sudah melakukan segala sesuatu demi melanjutkan sekolah dan termasuk berprestasi malah berakhir di sebuah klub malam sebagai gadis penghibur? Siapa yang tidak terenyuh atas seorang istri yang dianiaya oleh suami yang dipujanya dan memutuskan untuk tetap bertahan demi anak dan nama baik? Siapa yang…? Siapa yang..?

Apakah ini yang namanya jalan hidup? Tidak pernah dapat ditebak dan bisa berubah dalam sekejap seperti roda pedati. Atau sebenarnya itu adalah hasil dari pilihan hidup manusia sendiri ?

Saya berasal dari kota kecil di Jawa Barat. Bukan dari keluarga yang sangat miskin, namun tidak dapat disebut sebagai anak orang kaya juga. Kesulitan hidup menjadi makanan saya sehari-hari khususnya sejak di bangku SMA dan kuliah. Semua hal seperti harus saya peroleh dengan perjuangan keras, bukan seperti sekedar hadiah atau hak yang memang akan diperoleh oleh setiap anak.

(Sebenarnya kalau sekarang saya renungkan lagi, mungkin saja apa yang terjadi saat itu tidak lebih berat dari kesulitan anak-anak lain yang lebih tidak beruntung dari saya, walaupun pasti masih lebih berat dibandingkan setidaknya setengah teman SMA dan kuliah saya saat itu)

Setelah lulus kuliah tahun 2001, sepertinya semua menjadi membaik. Apa yang saya usahakan selalu ada hasilnya. Rasanya dunia seperti mulai membuka diri untuk saya. Walaupun tidak menanjak dengan drastis, tapi sedikit demi sedikit saya melihat jalan di depan saya menjadi terang dan pilihan terasa menjadi lebih banyak. Boleh dikatakan saya tidak pernah menganggur lebih dari 1 bulan (itu pun karena saya harus pindah setelah menikah) dan selalu berada pada jalur pekerjaan yang dulu saya tidak pernah bayangkan walaupun saya pelajari hampir selama 4 tahun yaitu Accounting. Tuhan sangat memberkati saya. Praise the Lord !

Kalau sekarang, hampir 6 bulan, saya memilih menjadi Ibu Rumah Tangga saja, tentu ada pertimbangannya. Yang pasti saat ini saya merasa ini keputusan terbaik saya dalam hidup selain melepaskan karir saya di Jakarta untuk mengikuti suami di sebuah negara baru. Walaupun tidak saya pungkiri beberapa teman yang mengasihi saya, meminta saya berpikir kembali untuk dua keputusan besar di atas. Karena sayang rasanya, kalau karir yang didapat dengan kerja keras harus berakhir di rumah, “hanya” sebagai istri dan ibu. Apalagi mereka tahu seberapa besar ambisius-nya saya yang berbanding lurus dengan besarnya potensi dan effort yang akan dikeluarkan demi mencapai target dan mimpi-mimpi saya.

Apakah ini memang jalan hidup saya atau hasil dari pilihan yang saya buat? Apakah kita hanya harus menjalani yang sudah dipetakan untuk kita atau harus melakukan manuver kehidupan yang bisa jadi sama sekali berbeda dengan peta hidup kita? Lalu mengapa kita bisa menjalani hidup yang sama sekali berbeda dengan hidup sebelumnya atau hidup yang “dikira” orang lain akan dijalani oleh kita? Seberapa besar pengaruh orang lain dan lingkungan atas jalan hidup kita? Bisakah penghargaan atau kekecewaan orang lain mengembalikan kita pada jalan hidup sebelumnya?

Sekarang saya belajar untuk tidak menghakimi orang atas jalan hidup apapun yang dipilihnya dan selalu mencoba memahami segala alasan dan pertimbangan yang pasti ada di baliknya, walaupun saya tidak mengetahuinya sekalipun. Saya juga belajar untuk bersyukur untuk hidup yang saya jalani, yang bisa juga berubah dalam sekejap tanpa permisi, dan karenanya akan terus berusaha untuk mempersiapkan hati dan jiwa sebaik mungkin.

The words for me:

Hidup adalah pilihan. Kita dianugerahkan akal budi oleh Tuhan agar dapat memilih yang terbaik untuk hidup kita.

Waktu..

7 tahun yang lalu salah seorang teman bercerita bahwa menurut Om Einstein  waktu adalah bersifat relatif. Artinya kalau anda sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan, waktu menjadi (terasa) lebih cepat. Akan tetapi, ketika anda sedang melakukan sesuatu yang membosankan dan tidak menyenangkan, waktu menjadi (terasa) melambat.

Jujur saja, sampai sekarang saya sendiri belum pernah mengecek, apakah kisah di atas itu betul adanya atau teman saya itu hanya ingin “ngerjain” saya :)

Anyway, saya pribadi merasakan perasaan seperti yang “dijabarkan” oleh Om Einstein ini. Dulu, ketika  saya masih dipenuhi banyak target, rencana, janji, impian ataupun desakan kebutuhan, saya merasa “kehabisan” waktu. Saya sempat berpikir mengapa Tuhan hanya memberi manusia 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 28-31 hari dalam sebulan dan 12 bulan dalam setahun? Mengapa tidak lebih banyak atau mungkin lebih afdol kalau bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan masing-masing orang? Ampuni saya Tuhan, manusia yang tidak pernah tahu berterima kasih dan tidak puas ini.

Dari banyak jawaban yang mungkin sudah ditemukan para pemikir, para ahli, para bijakwan/wati atau orang-orang yang pernah memikirkan hal ini, saya menemukan jawaban ala saya tentang hal itu.

Tuhan sudah mengatur semuanya dengan sempurna, karena semua yang dari Dia adalah baik. Di luar segala skala dan kategori yang ditemukan umat manusia, Tuhan ingin manusia lebih bijak dalam menggunakan waktu dalam kehidupannya serta dapat merancang rencana hidup sesuai dengan akal budi yang dianugrahkanNya. Pada akhirnya manusia akan menyadari bahwa karena keterbatasannya, banyak hal dalam dimensi waktu yg tidak dapat dipahami dan diprediksikan, sehingga manusia tidak mempunyai pilihan selain tergantung pada yang Maha Tahu, Maha Kuasa dan Maha besar. Selain kesempatan untuk memilih dan berusaha, Tuhan sudah merancang hidup manusia sesuai dengan waktuNya. Karena segala sesuatu adalah indah pada waktuNya.

Inti dari semua itu adalah apakah kita dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya? Lalu bagaimana cara terbaik menggunakan waktu yang terus berjalan tanpa berhenti dan tidak pernah kembali ini?

Saya termasuk tipe perencana. Semua hal harus saya rencanakan dengan detil dulu dan saya tidak terlalu nyaman dengan sesuatu yang tidak jelas, mengambang atau mengejutkan. Saya selalu ingin semua berada dalam koordinasi dan pengetahuan saya. Jika sesuatu terjadi di luar rencana, maka saya akan merasa kecewa dan marah atas “ketidaksempurnaan” rencana saya. Ya, saya adalah Miss Planning & Target. Karena itu, bagi saya waktu memegang peranan yang penting dalam setiap rencana saya.

Saya selalu berusaha mendorong diri saya (bahkan orang lain) untuk mengikuti aturan dan rencana yang saya buat. Saya menetapkan kategori atas semua yang saya rasakan dan inginkan. Saya tidak puas jika satu hari berjalan tanpa ada hasil yang berarti. Itu adalah pembuangan atau bahkan pemborosan waktu ! Semua harus cepat, efisien, efektif dan terkendali. Satu hari tanpa ada tantangan atau pencapaian target tertentu adalah nightmare dan saya merasa seperti ada yang salah atau dunia ini sedang “menumpuk” sejuta kejutan di hari berikutnya.

Hidup saya dipenuhi dengan impian, rencana dan target. Sebagian besar memang tercapai. Namun, di pihak lain saya merasa exhausted. Saya merasa menjadi budak waktu yang terus berlari tanpa memberi saya break  untuk hanya sekedar menarik nafas. Saya juga bisa kadang-kadang tidak manusiawi ketika kesempurnaan yang saya tetapkan tidak teraih. Tiba-tiba saya terhenyak, apakah saya memang sudah benar-benar menggunakan waktu dengan bijak? Apakah target-target yang telah tercapai adalah bukti dari penggunaan waktu yang sudah tepat? Lalu mengapa semuanya menjadi Waktu Saya, dimana Waktu Tuhan?

Pertemuan saya dengan Sang Penjaga Hati, membawa saya pada pemahaman lain tentang waktu. Dia yang selalu menikmati waktu dengan segenap hati tanpa dipusingkan oleh berbagai macam target dan ambisi. Dia yang menggunakan waktu juga untuk bersyukur dan berbagi. Dia yang dapat memberi maaf ketika waktu menjadi jahat dan tidak dapat kompromi. Ya, dia yang menggunakan waktu dengan cara yang lain dengan saya.

Saat ini, saya masih belajar menggunakan waktu dengan bijak. Tidak semua dari yang dahulu adalah salah, seperti tidak semua yang tidak saya lakukan adalah benar. Yang pasti sekarang, saya lebih menikmati waktu yang sedang berjalan bersama saya. Menghirup setiap nafas kehidupan yang masih dihembuskan ke paru-paru saya. Bersenyum ke setiap jiwa yang saya temui. Bersyukur buat semua yang saya peroleh hari ini. Mencoba berpikir, berkata dan berlaku positif setiap detik berlalu. Mengambil semua hikmah atas apa yang sudah berlalu. Lebih bersahabat dengan diri sendiri dan orang lain. Semua adalah proses yang tidak berakhir sampai waktu itu sendiri sampai pada ujungnya 

The words for me:

Apa yang sudah terjadi memang tidak pernah datang lagi, kita hanya bisa mengenang dan menggunakannya sebagai dasar kehidupannya kita selanjutnya. Masa lalu adalah sejarah, Masa depan adalah misteri, Masa kini adalah anugerah.

Awalnya…

Semua bermula ketika mampir ke blog salah satu sahabat lama, Doel (http://danielprasatyo.wordpress.com). Dulu (jaman yang namanya blog belum populer), kami termasuk teman diskusi, teman debat dan teman ber-angan2, termasuk teman suka dan duka masa muda dulu :) Bedanya bahasa Inggris dia lebih jago :P jadi harap maklum kalau nanti pada post2 berbahasa Inggris (yang direncanakan ada hehe) ada kesalahan2 baik grammar, spelling maupun diksi.

Jadi ingin punya blog pribadi (selain http://nicholasbernardo.blogspot.com yang memang didedikasikan khusus untuk si jagoan kecil) untuk menampung semua ide, pemikiran, pendapat, mimpi maupun ide-ide gila yang mungkin belum sempat disampaikan secara lisan atau ingin ditegaskan dengan bahasa tinta supaya selalu diingat sepanjang perjalanan hidup. Juga untuk menjaga otak dan hati masih jalan seimbang dan tidak statis, atau bahkan mati oleh rutinitas.

Seluruh isi blog ini murni dari pemikiran pribadi dan tidak bermaksud meng-diskreditkan pihak2 yang mungkin sengaja/tidak sengaja tersebut di blog ini (semoga tidak pernah sampai ke arah itu).

Untuk penjaga hatiku, Filipe Nery Bernardo, yang pada tahun-tahun perkenalan dan pengenalan kita, selalu menyediakan telinga dan hatinya untuk “mendengarkan”. Semoga blog ini membuat kita semakin dekat dan terus memperbaharui cinta kasih dan persahabatan antara kita. You have made me to be a better person, I luv u..

Untuk semua yang berkenan membaca dan memberi respon berharga untuk semua tulisan di blog ini. Terima kasih untuk waktu dan komentar kalian. Semoga blog ini juga bisa menjadi jembatan persahabatan baru dan jembatan penyambung persahabatan lama yang mungkin sempat terputus oleh waktu dan jarak.

Yes, this is a story about me, Fanny TJ